WELCOME

WELCOME TO MY BLOG

Senin, 21 Mei 2012

ASAL MUASAL PAGATAN KALIMANTAN SELATAN


Asal muasal Pagatan.
Dalam hikayat Banjar disebutkan ketika Pangeran Samudera berperang melawan pamannya Maharaja Tumenggung dari Kerajaan Negara Daha (sekarang wilayah Hulu Sungai) sekitar tahun 1526, nama Pagatan belum ada disebut untuk mengirim bantuan pasukan. Daerah yang disebut pada masa itu antara lain ; Tabunio, Takisung, Asam-asam, Swarangan, Kintap, Satui, dan Laut Pulau (Pulau Laut), dan Pamukan.
Pagatan baru disebut sekitar tahun 1750, dibangun oleh seorang hartawan asal Tanah Bugis, tepatnya dari Wajo (Sulawesi Selatan) bernama Puanna Dekkè. Beliau mulanya berlayar menuju tanah Pasir (Kalimantan Timur). Hatinya tak berkenan disana, sehingga berlayar lagi menyusuri Tanah Bumbu. Akhirnya Beliau menemukan sungai yang termasuk dalam wilayah kuasa Kesultanan Banjar. Selanjutnya Puanna Dekkè bertolak ke Bandarmasih (Banjarmasin) untuk membuka pemukiman kepada Sultan Banjar VII yaitu Panembahan Batu (1734).
Atas jasa seorang bernama La Pangèwa dan pasukannya menggempur pasukan Pangeran Amir bin Sultan Kuning yang menjadi lawan Sultan Banjar VIII, Sultan Tahmidullah II dalam perebutan mahkota kesultanan, La Pangèwa dianugerahi gelar sebagai Kapitan Lav Pulo, semacam Panglima armada laut yang menjaga perairan wilayah kesultanan Banjar. La Pangèwa pun selanjutnya menjadi Raja di daerah yang kini dinamakan Pagatan (Kusan Hilir) yang letaknya memang di bagian hilir sungai Kusan yang bermuara ke laut Jawa. Pada masa selanjutnya wilayah Kerajaan Pagatan disatukan menjadai semacam federasi dengan Kerajaan Kusan yang daerahnya berada di hulu sungai Kusan (sekarang bernama Lasung).
Kerajaan Pagatan merupakan salah satu daerah leenplichtige landschappen dalam Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe. Menurut Staatblaad tahun 1898 Nomor 178, wilayah Afdeeling ini beribukota di Kotabaru (Pulau Laut). Adapun wilayahnya meliputi ; Pasir, Pagatan, Manoenggoel, Bangkala’an dan Tjantoeng (Kelumpang), Sampanahan (Pamukan), Batoe Litjin, Sabamban, dan Poelau Laoeut (Pulau Laut) serta Seboekoe (Pulau Sebuku).
Wilayah Kerajaan Pagatan cukup kecil, hanya merupakan sebuah kecamatan, atau dapat disamakan dengan Lalawangan (Distrik) seperti yang terdapat di wilayah Hulu Sungai (sekarang Benua Enam) pada masa itu. Di wilayah Hulu Sungai pada waktu itu terdiri atas 9 Distrik yaitu ; Tabalong, Kelua (kini masuk Kabupaten Tabalong), Balangan (dulu termasuk Hulu Sungai Utara sebelum jadi Kabupaten), Amuntai (ibukota Hulu Sungai Utara), Alabio (masuk Hulu Sungai Utara), Batang Alai (kini masuk Hulu Sungai Tengah), Negara dan Amandit (Hulu Sungai Selatan), Margasari (Tapin), serta Benua Empat.
Raja-raja Pagatan dan Kusan ;
1. La Pangèwa (1755-1800), Raja Pagatan I bergelar Kapitan Laut Pulo.
2. La Palèbi (1830-1838), Raja Pagatan II.
3. La Paliweng (Arung Abdul Rahim), 1838-1855, Raja Pagatan III.
Pangeran Djaja Soemitra anak dari Pangeran Nafis menjadi Raja Kusan IV (1840-1850), pindah ke kampung Malino, menjadi Raja Pulau Laut I pada tahun 1850 hingga 1861. Sejak tahun 1850 pemerintahan Kerajaan Kusan digabung dengan Kerajaan Pagatan.
4. La Matunra (Arung Abdul Karim), 1855-1863, Raja Pagatan dan Kusan.
5. La Makkarau (1863-1871).
6. Abdul Jabbar (1871-1875).
7. Ratu Senggeng (Daeng Mangkau), 1875-1883.
8. H. Andi Tangkung (Petta Ratu), 1883-1893.
9. Andi Sallo (Arung Abdul Rahman), 1893-1908.
Tiap Lalawangan dipimpin seorang bergelar Kiai Tumenggung, yaitu Kepala Bubuhan yang diakuh Sultan Banjar memimpin daerah tersebut. Demikian pula pada daerah-daerah suku Dayak di Kalimantan Tengah. Raja Pagatan merupakan Kepala ‘Bubuhan’ suku Bugis yang berada di wilayahnya tersebut. Dan Kerajaan Pagatan ini tak bisa disamakan kedudukannya dengan Kerajaan atau Kesultanan Banjar (Negara Dipa) yang sudah ada sejak abad XIV Masehi, yang wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar wilayah Kalimantan.  (all sources)

Tidak ada komentar: