Asal muasal Pagatan.
Dalam
hikayat Banjar disebutkan ketika Pangeran Samudera berperang melawan pamannya
Maharaja Tumenggung dari Kerajaan Negara Daha (sekarang wilayah Hulu Sungai)
sekitar tahun 1526, nama Pagatan belum ada disebut untuk mengirim bantuan
pasukan. Daerah yang disebut pada masa itu antara lain ; Tabunio, Takisung,
Asam-asam, Swarangan, Kintap, Satui, dan Laut Pulau (Pulau Laut), dan Pamukan.
Pagatan baru
disebut sekitar tahun 1750, dibangun oleh seorang hartawan asal Tanah Bugis,
tepatnya dari Wajo (Sulawesi Selatan) bernama Puanna Dekkè. Beliau mulanya
berlayar menuju tanah Pasir (Kalimantan Timur). Hatinya tak berkenan disana,
sehingga berlayar lagi menyusuri Tanah Bumbu. Akhirnya Beliau menemukan sungai
yang termasuk dalam wilayah kuasa Kesultanan Banjar. Selanjutnya Puanna Dekkè
bertolak ke Bandarmasih (Banjarmasin) untuk membuka pemukiman kepada Sultan
Banjar VII yaitu Panembahan Batu (1734).
Atas jasa
seorang bernama La Pangèwa dan pasukannya menggempur pasukan Pangeran Amir bin
Sultan Kuning yang menjadi lawan Sultan Banjar VIII, Sultan Tahmidullah II
dalam perebutan mahkota kesultanan, La Pangèwa dianugerahi gelar sebagai
Kapitan Lav Pulo, semacam Panglima armada laut yang menjaga perairan wilayah
kesultanan Banjar. La Pangèwa pun selanjutnya menjadi Raja di daerah yang kini
dinamakan Pagatan (Kusan Hilir) yang letaknya memang di bagian hilir sungai
Kusan yang bermuara ke laut Jawa. Pada masa selanjutnya wilayah Kerajaan
Pagatan disatukan menjadai semacam federasi dengan Kerajaan Kusan yang
daerahnya berada di hulu sungai Kusan (sekarang bernama Lasung).
Kerajaan
Pagatan merupakan salah satu daerah leenplichtige landschappen dalam Afdeeling
Pasir en de Tanah Boemboe. Menurut Staatblaad tahun 1898 Nomor 178, wilayah
Afdeeling ini beribukota di Kotabaru (Pulau Laut). Adapun wilayahnya meliputi ;
Pasir, Pagatan, Manoenggoel, Bangkala’an dan Tjantoeng (Kelumpang), Sampanahan
(Pamukan), Batoe Litjin, Sabamban, dan Poelau Laoeut (Pulau Laut) serta
Seboekoe (Pulau Sebuku).
Wilayah
Kerajaan Pagatan cukup kecil, hanya merupakan sebuah kecamatan, atau dapat
disamakan dengan Lalawangan (Distrik) seperti yang terdapat di wilayah Hulu
Sungai (sekarang Benua Enam) pada masa itu. Di wilayah Hulu Sungai pada waktu
itu terdiri atas 9 Distrik yaitu ; Tabalong, Kelua (kini masuk Kabupaten
Tabalong), Balangan (dulu termasuk Hulu Sungai Utara sebelum jadi Kabupaten),
Amuntai (ibukota Hulu Sungai Utara), Alabio (masuk Hulu Sungai Utara), Batang
Alai (kini masuk Hulu Sungai Tengah), Negara dan Amandit (Hulu Sungai Selatan),
Margasari (Tapin), serta Benua Empat.
Raja-raja
Pagatan dan Kusan ;
1. La Pangèwa (1755-1800), Raja Pagatan I bergelar Kapitan Laut Pulo.
2. La Palèbi (1830-1838), Raja Pagatan II.
3. La Paliweng (Arung Abdul Rahim), 1838-1855, Raja Pagatan III.
1. La Pangèwa (1755-1800), Raja Pagatan I bergelar Kapitan Laut Pulo.
2. La Palèbi (1830-1838), Raja Pagatan II.
3. La Paliweng (Arung Abdul Rahim), 1838-1855, Raja Pagatan III.
Pangeran
Djaja Soemitra anak dari Pangeran Nafis menjadi Raja Kusan IV (1840-1850),
pindah ke kampung Malino, menjadi Raja Pulau Laut I pada tahun 1850 hingga
1861. Sejak tahun 1850 pemerintahan Kerajaan Kusan digabung dengan Kerajaan
Pagatan.
4. La
Matunra (Arung Abdul Karim), 1855-1863, Raja Pagatan dan Kusan.
5. La Makkarau (1863-1871).
6. Abdul Jabbar (1871-1875).
7. Ratu Senggeng (Daeng Mangkau), 1875-1883.
8. H. Andi Tangkung (Petta Ratu), 1883-1893.
9. Andi Sallo (Arung Abdul Rahman), 1893-1908.
5. La Makkarau (1863-1871).
6. Abdul Jabbar (1871-1875).
7. Ratu Senggeng (Daeng Mangkau), 1875-1883.
8. H. Andi Tangkung (Petta Ratu), 1883-1893.
9. Andi Sallo (Arung Abdul Rahman), 1893-1908.
Tiap
Lalawangan dipimpin seorang bergelar Kiai Tumenggung, yaitu Kepala Bubuhan yang
diakuh Sultan Banjar memimpin daerah tersebut. Demikian pula pada daerah-daerah
suku Dayak di Kalimantan Tengah. Raja Pagatan merupakan Kepala ‘Bubuhan’ suku
Bugis yang berada di wilayahnya tersebut. Dan Kerajaan Pagatan ini tak bisa
disamakan kedudukannya dengan Kerajaan atau Kesultanan Banjar (Negara Dipa)
yang sudah ada sejak abad XIV Masehi, yang wilayah kekuasaannya meliputi
sebagian besar wilayah Kalimantan. (all sources)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar